Gay Indonesia Forum
http://gayindonesiaforum.com
Tempat utk berbagi dan berdiskusi, persahabatan, teman dan cinta gay Indonesia



Sekarang ini Sab Agt 23, 2014 2:37 am

Waktu dalam UTC + 7 jam




Postkan topik baru Balas ke topik  [ 15 post ] 
Pengarang Pesan
PostDipost: Sel Feb 05, 2013 11:32 am 
Offline
Prime Minister
<b>Prime Minister</b>
Avatar user

Bergabung: Sab Jul 16, 2011 11:58 pm
Post: 6369
Has Liked: 614 times
Been Liked: 107 times
Deskripsi diri: ...Simple...
Kemelut Daging Sapi

Oleh Toto Subandriyo

Kelangkaan dan terungkapnya kasus dugaan suap impor daging sapi baru-baru ini hanya sebagian dari cermin karut-marut politik pangan Indonesia.

Sebagai negara agraris dengan sumber daya alam melimpah, pemenuhan berbagai kebutuhan pangan, termasuk daging sapi, harus ditutup dari impor. Kelangkaan daging sapi yang membuat harga daging melonjak—tertinggi di dunia saat ini—dan dibiarkan berlarut-larut membuat berbagai pihak kelimpungan.

Pedagang daging sapi, penjual bakso, pengelola warung makan, dan ibu-ibu rumah tangga, semuanya menjerit. Para pedagang daging sapi di sejumlah daerah bahkan sempat mogok berjualan. Beberapa bulan lalu, masyarakat juga sempat dibuat waswas dengan kabar ditemukannya daging sapi yang dioplos dengan daging babi hutan untuk pembuatan bakso di Jakarta. Tingginya harga daging telah memicu tindakan aji mumpung, termasuk permainan impor. Masih jadi pertanyaan apakah swasembada yang ditargetkan tercapai 2014 akan kembali direvisi setelah pernah mengalami revisi dua kali pada 2007 dan 2010.

Unik

Dibanding negara lain, konsumsi daging sapi bangsa Indonesia masih sangat rendah, yakni 1,87 kilogram per kapita per tahun. Dari konsumsi yang rendah itu dibutuhkan 484.000 ton daging sapi per tahun. Jumlah itu 85 persen dipenuhi dari produksi domestik dan sisanya impor. Kondisi seperti ini, selain membuat lemah posisi tawar, juga membuka peluang bagi masuknya jenis penyakit ternak baru.

Menurut data sensus sapi dan kerbau yang dilakukan BPS pada 2011, saat ini jumlah sapi potong dan kerbau kita mencapai 14,8 juta ekor. Angka itu jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya 12,6 juta ekor. Lalu, mengapa gonjang-ganjing dan kelangkaan daging masih juga terjadi?

Paling tidak ada dua hal yang menjadi pangkal permasalahan. Pertama, data BPS tersebut dihimpun dari jutaan peternak yang tersebar di seluruh Tanah Air. Puluhan juta ekor sapi yang terdata berada di kandang para peternak kecil yang lokasinya tersebar di seluruh pelosok negeri. Semua itu bukan merupakan ternak yang sewaktu-waktu bisa dipotong dalam kondisi darurat kelangkaan daging (ready stock).

Kedua, secara sosiokultural, industri peternakan sapi rakyat negeri ini memiliki sifat unik. Khususnya di masyarakat Jawa, ternak sapi dan kerbau dianggap bukan komoditas. Mereka menyebut sapi dan kerbau peliharaannya dengan terminologi ”rojo koyo”. Secara harfiah, terminologi ini berarti tabungan. Mereka tidak akan menjual sapi atau kerbau meski harga jual di pasaran sedang tinggi, kecuali jika mereka terdesak kebutuhan keluarga yang tak ada sumber lain lagi untuk menutupnya.

Akurasi data

Agar target swasembada daging sapi 2014 dapat tercapai, upaya yang harus dilakukan adalah perombakan sistem manajemen dan produksi daging sapi. Swasembada daging sapi dan kerbau dimaksudkan untuk menyediakan daging sapi kerbau dalam negeri minimal 90 persen dari kebutuhan, serta maksimal 10 persen dipenuhi dari impor.

Langkah mendesak adalah pembenahan akurasi data jumlah ternak sapi dan kerbau yang dikaitkan dengan pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan elastisitas kebutuhan daging. Sukses swasembada daging 2014 bergantung pada usaha pembibitan, industri feedlot dan penggemukan, industri rumah potong hewan, serta industri pengolahan berbasis daging sapi.

Saat ini masih banyak usaha ternak sapi potong belum menerapkan cara beternak yang efektif sehingga produktivitas dan reproduksinya belum maksimal. Melalui sentuhan teknologi budidaya, seperti inseminasi buatan dan teknologi transfer embrio yang intensif, serta dukungan kebijakan yang konsisten, program swasembada daging pasti dapat kita capai.

Keterlibatan swasta sangat dibutuhkan untuk mendukung program swasembada daging 2014. Hal itu antara lain melalui usaha impor sapi bakalan untuk digemukkan minimal 60 hari sebagai pendukung program tunda potong sapi jantan lokal dan pengurangan laju pemotongan betina produktif lokal. Perlu pula integrasi rumah potong hewan dengan produksi dan pengolahan daging agar diperoleh daging segar yang penuhi kaidah ASUH (aman, sehat, utuh, dan halal).

Salah satu pelajaran dari kasus kelangkaan daging sapi sekarang ini adalah pentingnya diversifikasi pangan sumber protein hewani. Dari biaya produksi, daging sapi relatif lebih mahal dibandingkan sumber protein hewani lain. Dari kandungan gizi, kita punya banyak sumber protein hewani yang lebih murah dan berkualitas, seperti daging unggas, telur, ikan, serta ternak ruminansia lain seperti kambing. Indonesia pernah menyandang status eksportir sapi di 1970-an. (Toto Subandriyo, Anggota Dewan Pakar Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia Kabupaten Tegal)

_________________
Gambar
_________________

Hasil Quick Count Sementara Pemilu Legislatif 2014


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sel Feb 05, 2013 11:34 am 
Offline
Prime Minister
<b>Prime Minister</b>
Avatar user

Bergabung: Sab Jul 16, 2011 11:58 pm
Post: 6369
Has Liked: 614 times
Been Liked: 107 times
Deskripsi diri: ...Simple...
Teori Konspirasi

Oleh Azyumardi Azra

”Konspirasi”. ”Persekongkolan”. Istilah ini kembali menyeruak ke depan publik persis akhir Januari 2012 pascapenahanan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi karena dugaan terlibat suap bersama tiga tersangka lain yang diduga juga terlibat rasuah.

Para petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) umumnya menyatakan, penahanan Luthfi adalah sebuah konspirasi di antara berbagai kekuatan dalam dan luar negeri untuk menghancurkan PKS menjelang Pemilu 2014. Sementara PKS sudah memasang target untuk meningkatkan perolehan suara, menjadi salah satu dari tiga kekuatan politik terbesar di negeri ini.

Bagi banyak kalangan publik Tanah Air dan juga kalangan asing yang mengamati perkembangan politik Indonesia, mekanisme pertahanan diri PKS dengan menggunakan kepercayaan pada ”teori adanya konspirasi” merupakan upaya kontra produktif. Bagi mereka, cara berpikir seperti ini, alih-alih dapat memperbaiki kerusakan yang telah terjadi, sebaliknya justru membuat citra PKS kian pudar. Apakah presiden baru PKS, Anis Matta, berhasil dalam ”pertobatan nasional”, konsolidasi partai, dan bakal mampu mencapai target Pemilu 2014, masih harus ditunggu.

Kelatenan teori konspirasi

Adanya kepercayaan dan teori konspirasi yang dipegang individu ataupun kelompok masyarakat bukan hal baru. Gejala semacam ini sudah ada sejak lama. Orang dan kelompok yang percaya pada konspirasi ini ada baik dalam masyarakat yang masih primitif, masyarakat berkembang, maupun masyarakat maju sekalipun. Pikiran konspirasi laten dalam masyarakat dan negara mana pun, dan dapat muncul ke permukaan publik sewaktu-waktu.

Berbagai teori dan kepercayaan tentang adanya konspirasi tertentu beredar dalam masyarakat, mulai dari tingkat lokal, nasional, hingga internasional. Pikiran dan persepsi yang dikuasai teori konspirasi juga ada pada berbagai bidang kehidupan, tidak hanya politik, tetapi juga ekonomi, agama, sosial, budaya, kesenian, dan bahkan olahraga. Di kalangan bangsa Yahudi ada teori tentang persekongkolan berbagai kalangan internasional sejak abad pertengahan yang mencapai puncaknya di zaman Hitler dengan holocaust untuk menghancurkan mereka. Di kalangan masyarakat Muslim juga ada teori dan kepercayaan tentang adanya konspirasi Dunia Barat untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin.

Di dunia sepak bola, lazim adanya pikiran dan persepsi tentang konspirasi di kalangan para wasit dan hakim garis untuk memastikan Manchester United, Real Madrid, atau Juventus untuk terus memegang dominasi dan hegemoni dalam pertarungan di liga nasional masing-masing. Karena adanya konspirasi semacam itu, hampir tidak mungkin bagi tim-tim sepak bola lain untuk menjadi juara.

Kenapa dan dari mana munculnya kepercayaan terhadap pada teori konspirasi tertentu di kalangan masyarakat tertentu? Karena kelatenan teori konspirasi, para psikolog, sejarawan, antropolog, dan ahli politik telah lama pula berusaha menjawab fenomena tersebut. Mereka antara lain berkesimpulan, sikap percaya orang atau kelompok tertentu pada adanya konspirasi jahat yang mengorbankan mereka pada hakikatnya merupakan masalah psikologis. Lebih jauh, dalam kesimpulan banyak ahli tersebut, teori konspirasi merupakan manifestasi dari kegoyahan persepsi diri, histeria, delusional dan bahkan paranoia individu dan masyarakat terkait.

Lebih jauh, kepercayaan pada adanya konspirasi juga bersumber dari bias kognitif yang menimbulkan distorsi penilaian terhadap gejala realitas pahit yang mereka hadapi. Dengan pikiran yang sudah dirasuki teori konspirasi, individu dan kelompok bersangkutan tetap bertahan dengan kepercayaan konspiratif itu meski banyak bukti dan indikasi membantah adanya persekongkolan tersebut.

Meminjam kerangka Tim Melley dalam masterpiece-nya, Empire of Conspiracy (2000), cara berpikir tentang konspirasi bersumber dari sedikitnya dua faktor; pertama, ketika seseorang atau kelompok memegang sangat kuat nilai individualistis dan in-group belaka; kedua, ketika individu dan kelompok seperti itu kehilangan sense of control sehingga mengalihkan masalah internalnya kepada pihak lain.

Teori konspirasi dan kepercayaan

Apakah teori konspirasi semacam itu benar dan berdasar? Bagi mereka yang terkuasai pikiran dan psikologi konspiratif, hal itu tentu saja benar. Mereka merasa adanya semacam konspirasi melalui semacam spekulasi berkenaan dengan keadaan atau situasi tertentu yang merugikan kepentingan mereka. Namun, ketika diminta bukti-bukti memadai, mereka umumnya tidak dapat memberikannya. Pengujian ilmiah-akademis tentang berbagai teori konspirasi yang beredar dalam masyarakat umumnya mengungkapkan, dugaan persekongkolan selalu hampir tidak berdasar dan tidak bisa dibuktikan. Sebaliknya, justru terdapat banyak indikasi dan bukti yang membantah berbagai teori konspirasi itu.

Sebab itulah, dalam berbagai kajian ilmiah akademis, pikiran dan teori konspirasi muncul dari diri seseorang atau kelompok karena ketidakmampuan mereka sendiri untuk menjelaskan hal-hal yang dalam persepsi pribadi susah mereka pahami secara logis dan rasional. Misalnya, bagi kalangan internal pihak yang tercekoki pikiran konspiratif, tidak masuk akal seorang figur pimpinan yang terlanjur sudah tepersepsikan sebagai pribadi bersih dan memiliki integritas kemudian dapat menjadi tersangka dalam kasus suap, gratifikasi, atau bentuk-bentuk KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) lain.

Dengan demikian, pikiran tentang adanya konspirasi sekaligus mencerminkan ketidakmampuan individu dan kelompok untuk menerima dan memahami kesenjangan di antara persepsi diri tadi dengan realitas pahit yang tiba-tiba muncul. Padahal, realitas itu sendiri masih harus diuji dan dibuktikan secara cermat dalam proses berikutnya, yakni apakah itu merupakan realitas hakiki atau semu belaka.

Karena itu, teori konspirasi lazimnya lebih merupakan mekanisme pertahanan diri yang memperlihatkan sikap apologetis dan defensif belaka. Teori konspirasi juga mencerminkan sikap melemparkan kesalahan dan tanggung jawab internal kepada pihak luar. Dalam konteks kehidupan berbangsa-bernegara dan berjamaah- berumat, percaya kepada konspirasi tertentu jelas tidak menolong, sebaliknya dapat mengikis sikap saling percaya, mutual trust, yang justru sangat penting dan urgen bagi adanya modal sosial. Dan, modal sosial amatlah mutlak bagi masyarakat, umat, dan bangsa untuk mencapai kohesi sosial demi kemajuan.

Azyumardi Azra Guru Besar Sejarah; Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta; Anggota Council on Faith, World Economic Forum, Davos

_________________
Gambar
_________________

Hasil Quick Count Sementara Pemilu Legislatif 2014


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sel Feb 05, 2013 1:40 pm 
Offline
Super Model
Super Model

Bergabung: Sel Agt 30, 2011 11:15 am
Post: 753
Has Liked: 1 time
Been Liked: 27 times
Indonesia itu aneh mau berdasarkan hukum pasar atau mau sistem sosialis komunis semua diatur negara.

Daging sapi impor bisa lebih murah itu kan aneh. Peternak lokal harus berkiat gimana bisa menjual sapi dengan harga bersaing dan kualitas lebih baik harusnya.

Buah impor juga begitu...................... Mengapa petani lokal kaga ada yang bisa menanam pohon buah yang bagus dan menjual dengan harga bersaing.

:panas:

Konsumen juga seringkali sok nasionalis..............

Makan dah tuh nasionalisme mau bayar daging sapi termahal di dunia ? Atau tarif internet paling mahal dan paling lemot ?

:babakbelur:


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Rab Feb 06, 2013 12:25 pm 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Sab Jan 07, 2012 8:27 pm
Post: 1142
Has Liked: 0 time
Been Liked: 1 time
Menurutku sih konsumsi daging sapi yang rendah mestinya disyukuri, kalau perlu ya jangan import. Apa yang tersedia ya itu yang dipakai. Kalau ketergantungan import nanti riweuh kayak perkara tempe beberapa tahun yang lalu...
Jujur saja, konsumsi daging merah itu kan kurang baik untuk kesehatan. Toh sumber protein masih bisa diperoleh dari tempat lain, kalau daging merah tidak tersedia kan bisa diganti dengan ikan. Lebih sehat, ramah lingkungan, dan ramah dikantong :D

_________________
Pisah dengan GIF karena kudu ikut Kuliah Kerja itu rasanya...
Gambar


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Rab Feb 06, 2013 1:47 pm 
Offline
Super Model
Super Model

Bergabung: Sel Agt 30, 2011 11:15 am
Post: 753
Has Liked: 1 time
Been Liked: 27 times
kucing_hitam menulis:
Menurutku sih konsumsi daging sapi yang rendah mestinya disyukuri, kalau perlu ya jangan import. Apa yang tersedia ya itu yang dipakai. Kalau ketergantungan import nanti riweuh kayak perkara tempe beberapa tahun yang lalu...
Jujur saja, konsumsi daging merah itu kan kurang baik untuk kesehatan. Toh sumber protein masih bisa diperoleh dari tempat lain, kalau daging merah tidak tersedia kan bisa diganti dengan ikan. Lebih sehat, ramah lingkungan, dan ramah dikantong :D



Indonesia itu mau ikut sistem Free Market atau Proteksionisme, itu masalahnya................

Proteksionisme = apa apa jadi mahal dan rawan penyimpangan (penyelundupan impor maupun ekspor) atau rawan kong kalikong antara pengusaha dan pembuat kebijakan misalnya dalam kebijakan pemberian kuota

Yang harus jadi bahan pertanyaan adalah kenapa Daging sapi, buah buahan dan produk2 lokal lain kok tidak bisa sebagus dan semurah produk2 impor, di manakah masalahnya ?

Infrastruktur, pungli dan ekonomi biaya tinggi itulah yang kudu diberantas dan dipangkas habis

Wilayah kita masih luas, kenapa ga dibikin saja peternakan sapi secara profesional di pulau Kalimantan, Sumatra atau Papua misalnya ? Kenapa kita ga membuka lahan persawahan baru di Papua atau di Kalimantan dan menaman padi dengan kualitas bagus dan bisa swasembada beras ?

Proteksionisme itu tidak akan merangsang produsen lokal buat berpikir gimana caranya maju agar bisa bersaing di kiprah global, semua harus bergantung kepada perlindungan pemerintah.

Siapa yang rugi di sini ?

Kita kita ini sebagai konsumen, pilihan makin sedikit harga2 makin mahal.

Mengapa kita masih membayar langganan internet dengan biaya mahal gila dan kecepatannya masih lemot ? Yah itu tadi Proteksionisme dan kurangnya persaingan.

Kasi masuk aja semua perusahaan TELKOM negara2 lain biar mereka menawarkan pelayanan mereka yang terbaik dan murah

Peduli setan dengan "nasionalisme" semu.


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Rab Feb 06, 2013 8:47 pm 
Offline
Minister of Story and Counseling
<b>Minister of Story and Counseling</b>
Avatar user

Bergabung: Min Jul 17, 2011 7:47 pm
Post: 1248
Lokasi: Jakarta Barat
Has Liked: 5 times
Been Liked: 75 times
Mari berkonspirasi ala si SAPI ...

Inilah yang namanya POLITIK DAGANG SAPI ...

Cocok dah sama POLITIKUS "sapi" Indonesia ... semua di cucuk hidungnya makanya nurut di tarik kemana aja ...

_________________
Sebesar CINTA yang kau tanamkan, Sedalam itu pula kebencian yang kau berikan...
Karena CINTA tak harus memiliki...


Gambar

I miss my Green Rose ... Gambar

My Pin ... (Sorry, I just close my heart for one MAN who I LOVE) ...


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Kam Feb 07, 2013 12:08 am 
Offline
Super Model
Super Model
Avatar user

Bergabung: Min Jul 17, 2011 1:17 pm
Post: 951
Lokasi: Yogya
Has Liked: 0 time
Been Liked: 8 times
Deskripsi diri: like to make a friendship with everyone
Politik (Power) is corrupt.
Absolute Power is Absolute Corrupt.
(˘_˘")

_________________
Gambar
The Truth of Life is Being What I Am To Be
Review Film Bertemakan Gay
A Story Without A Title☞Ch1.Kisah Klasik Utk Masa Depan
Love with Many Angle(Cinta Tak Bersegi)☞THE END
Homoseksual : Analisa Penyebab dg 4 Pendekatan (pg.3)


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Kam Feb 07, 2013 12:24 am 
Offline
Vice Prime Minister
<b>Vice Prime Minister</b>
Avatar user

Bergabung: Min Jul 17, 2011 2:05 pm
Post: 1998
Has Liked: 21 times
Been Liked: 36 times
Beruntung gw ngga doyan daging sapi wkwkwk....

Anyway....
Jangan salahkan impor kalo ternyata suplai daging sapi lokal ngga bisa memenuhi kebutuhan domestik.
Apalagi bermimpi swasembada sapi di 2014, mana mungkin tercapai dlm setahun ke depan kalo pengembangbiakan sapi di Indonesia ngga pernah diurus scr serius selama ini?
Ajaib bener kalo mikir dlm waktu singkat para induk sapi bisa melahirkan lbh banyak anak sapi dan tiba2 anak2 sapi jadi gede dan siap dipotong utk dikonsumsi.

Kalo pasokan terbatas, tentu saja konsumsinya juga rendah karena ngga banyak yg bisa dikonsumsi.
Otomatis pula harganya naik karena demand lbh besar dr supply.
Utk sebagian org, mungkin harga berapapun ngga masalah karena msh mampu beli.
Tapi sebagian besar rakyat indonesia msh kesulitan utk mendapatkan makanan dgn gizi yg layak karena faktor ekonomi.

Bukan hanya daging sapi, tetapi kebutuhan pangan lainnya juga msh mengandalkan pasokan impor.
Mulai dr beras sampe buah2an msh banyak yg impor.
Impor boleh direm, tapi pemerintah harus mikir juga gimana caranya agar rakyat dapat tetap makan dgn harga yg terjangkau.

_________________
Believe nothing, no matter where you read it, or who said it, no matter if I have said it, unless it agrees with your own reason and your own common sense.

Gambar


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Kam Feb 07, 2013 9:49 am 
Offline
Prime Minister
<b>Prime Minister</b>
Avatar user

Bergabung: Sab Jul 16, 2011 11:58 pm
Post: 6369
Has Liked: 614 times
Been Liked: 107 times
Deskripsi diri: ...Simple...
gusdar menulis:
Beruntung gw ngga doyan daging sapi wkwkwk....

Anyway....
Jangan salahkan impor kalo ternyata suplai daging sapi lokal ngga bisa memenuhi kebutuhan domestik.
Apalagi bermimpi swasembada sapi di 2014, mana mungkin tercapai dlm setahun ke depan kalo pengembangbiakan sapi di Indonesia ngga pernah diurus scr serius selama ini?
Ajaib bener kalo mikir dlm waktu singkat para induk sapi bisa melahirkan lbh banyak anak sapi dan tiba2 anak2 sapi jadi gede dan siap dipotong utk dikonsumsi.

Kalo pasokan terbatas, tentu saja konsumsinya juga rendah karena ngga banyak yg bisa dikonsumsi.
Otomatis pula harganya naik karena demand lbh besar dr supply.
Utk sebagian org, mungkin harga berapapun ngga masalah karena msh mampu beli.
Tapi sebagian besar rakyat indonesia msh kesulitan utk mendapatkan makanan dgn gizi yg layak karena faktor ekonomi.

Bukan hanya daging sapi, tetapi kebutuhan pangan lainnya juga msh mengandalkan pasokan impor.
Mulai dr beras sampe buah2an msh banyak yg impor.
Impor boleh direm, tapi pemerintah harus mikir juga gimana caranya agar rakyat dapat tetap makan dgn harga yg terjangkau.


Setuju Cece, masalahnya Swasembada masih sebatas ANGAN...



:fuih: :fuih: Terry :fuih: :fuih:

_________________
Gambar
_________________

Hasil Quick Count Sementara Pemilu Legislatif 2014


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Kam Feb 07, 2013 9:52 am 
Offline
Prime Minister
<b>Prime Minister</b>
Avatar user

Bergabung: Sab Jul 16, 2011 11:58 pm
Post: 6369
Has Liked: 614 times
Been Liked: 107 times
Deskripsi diri: ...Simple...
chinesecute2010 menulis:
Yang harus jadi bahan pertanyaan adalah kenapa Daging sapi, buah buahan dan produk2 lokal lain kok tidak bisa sebagus dan semurah produk2 impor, di manakah masalahnya ?

Infrastruktur, pungli dan ekonomi biaya tinggi itulah yang kudu diberantas dan dipangkas habis


Mo bangun infrastruktur aja susah banget, mulai pembebasan lahan, calo bahkan pembangunan infrastuktur malah ditentang, contohnya toll.
Padahal (pejabat China pernah berbagi resep) untuk menurunkan cost salahsatunya adalah PERBAIKAN INFRASTRUKTUR MENYELURUH, sehingga transportasi mudah dan biasa bisa ditekan hingga 90%!

Semoga para Pemimpin Negeri ini mendapatkan masukan yang tepat dari para pemikir pemikir ekonomi yang biasanya pintar pintar tapi tidak berani bersuara ketika sudah masuk ruang lingkup kekuasaan.



:OMG: :OMG: Terry :OMG: :OMG:

_________________
Gambar
_________________

Hasil Quick Count Sementara Pemilu Legislatif 2014


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Kam Feb 07, 2013 9:58 am 
Offline
Prime Minister
<b>Prime Minister</b>
Avatar user

Bergabung: Sab Jul 16, 2011 11:58 pm
Post: 6369
Has Liked: 614 times
Been Liked: 107 times
Deskripsi diri: ...Simple...
Pelobi Daging Sapi

Kasus dugaan suap impor daging sapi sebenarnya hanyalah sebagian kecil dari berbagai kongkalikong dalam impor daging sapi. Urusan impor daging sapi dan sapi bakalan dengan segenap akal-akalan di dalamnya sudah lama terjadi dan jumlahnya tidak kecil. Kekuatan lobi menjadi kunci mereka.

Sejak zaman Orde Baru isu kongkalikong impor daging sapi sudah ada. Saat itu, dan masih dilakukan sampai beberapa tahun yang lalu, upaya akal-akalan yang sering muncul adalah pengelabuan berat impor untuk sapi bakalan. Syarat impor sapi bakalan adalah 350 kg, tetapi kenyataannya melebihi berat itu, ada yang 450 kg, bahkan ada yang lebih dari 500 kg. Dengan cara ini, mereka tak perlu lagi menggemukkan sapi bakalan alias langsung dibawa ke rumah pemotongan hewan.

Penyelundupan daging sapi juga kerap dilakukan. Biasanya berasal dari negara yang tidak bebas penyakit sapi gila atau penyakit kuku dan mulut. Daging sapi dari negara yang tidak bebas penyakit biasanya dijual dengan harga yang sangat murah, jauh di bawah harga pasar.

Seperti diketahui, saat ini hanya tiga negara yang bebas dari penyakit tersebut, yaitu Indonesia, Australia, dan Selandia Baru. Jumlah negara yang bebas penyakit tersebut makin sedikit setelah Amerika Serikat pada tahun 2006 juga tidak berstatus bebas karena ditemukan kasus sapi gila di negara itu.

Jika kemudian segelintir importir diduga menyuap atau berusaha menyuap karena situasi di atas membuat mereka mentok. Apalagi Bea dan Cukai makin ketat mengawasi pemasukan daging sapi. Beberapa kali penyelundupan bisa digagalkan aparat Bea dan Cukai. Secara hukum pemerintah juga masih melarang masuknya daging sapi dan produk asal daging sapi dari negara yang belum bebas penyakit.

Upaya lobi-lobi pernah dilakukan beberapa kalangan dengan harapan pemerintah membuka impor dari negara yang tidak bebas penyakit. Mereka berargumentasi dengan usulan zona bebas. Kebijakan yang ada adalah negara bebas penyakit yang artinya Indonesia hanya menerima impor dari negara yang bebas penyakit. Para pelobi mengatakan, di negara yang tidak bebas penyakit ada provinsi-provinsi yang bebas penyakit. Untuk itulah mereka mengusulkan impor daging sapi dari zona bebas atau provinsi bebas penyakit.

Pelobi ini bukanlah pelobi yang mudah kempis di tengah jalan meski sejak bertahun-tahun yang lalu usulan mereka mentah. Pada masa Menteri Pertanian Bungaran Saragih, para pelobi pernah mengusulkan zona bebas, tetapi usulan ini mentah juga. Pada masa Menteri Pertanian Anton Apriyantono, mereka juga sangat aktif untuk mendapatkan peluang itu. Akan tetapi, tekanan media sangat kuat sehingga zona bebas tidak lolos.

Lobi-lobi di seputar subsektor peternakan memang cukup kencang. Seorang mantan dirjen peternakan pernah menuturkan betapa berbagai kalangan dari importir, dan juga orang yang mengaku dari partai politik, berupaya untuk meloloskan sejumlah izin. Kebijakan pun berusaha diarahkan untuk kepentingan tertentu.

Meski berkali-kali mentah, kebijakan zona bebas itu akhirnya dibuka berdasarkan UU Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Mencemaskan dampak kebijakan itu, sejumlah pihak langsung mengajukan uji materi terhadap undang-undang ini. Akhir tahun lalu MK menganulir pasal tentang zona bebas sehingga kebijakan pemerintah harus kembali ke kebijakan negara bebas penyakit.

Otomatis dengan keputusan itu sejumlah pihak yang ingin bisa mengimpor dari negara yang tidak bebas penyakit kembali mentok. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah bagaimana caranya mendapatkan tambahan kuota impor dari negara yang bebas penyakit. Kasus suap diduga untuk mendapatkan tambahan kuota impor itu. Apakah benar demikian? Kita tunggu hasil penyelidikan petugas dan juga nanti di pengadilan.

Pesan lain dari kasus ini, kasus dugaan suap impor daging sapi diharapkan menjadi pintu masuk untuk membuka kongkalikong lainnya di sektor pertanian. Ada banyak masalah di hulu dan hilir sektor pertanian. KPK sendiri sudah memasukkan pemberantasan korupsi yang menggerogoti ketahanan pangan termasuk dalam prioritas mereka. Sekali lagi kita tunggu kelanjutannya.

_________________
Gambar
_________________

Hasil Quick Count Sementara Pemilu Legislatif 2014


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Jum Feb 08, 2013 2:31 pm 
Offline
Super Model
Super Model

Bergabung: Sel Agt 30, 2011 11:15 am
Post: 753
Has Liked: 1 time
Been Liked: 27 times
Terry Sie menulis:
chinesecute2010 menulis:
Yang harus jadi bahan pertanyaan adalah kenapa Daging sapi, buah buahan dan produk2 lokal lain kok tidak bisa sebagus dan semurah produk2 impor, di manakah masalahnya ?

Infrastruktur, pungli dan ekonomi biaya tinggi itulah yang kudu diberantas dan dipangkas habis


Mo bangun infrastruktur aja susah banget, mulai pembebasan lahan, calo bahkan pembangunan infrastuktur malah ditentang, contohnya toll.
Padahal (pejabat China pernah berbagi resep) untuk menurunkan cost salahsatunya adalah PERBAIKAN INFRASTRUKTUR MENYELURUH, sehingga transportasi mudah dan biasa bisa ditekan hingga 90%!

Semoga para Pemimpin Negeri ini mendapatkan masukan yang tepat dari para pemikir pemikir ekonomi yang biasanya pintar pintar tapi tidak berani bersuara ketika sudah masuk ruang lingkup kekuasaan.



:OMG: :OMG: Terry :OMG: :OMG:



Produk peternakan dan pertanian dikembangkan di luar Pulau Jawa misalnya di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, tanah kan masih luas banget. Bangun saja sawah2 baru, kebun2 buah sayur baru, sama ranch ranch sapi dan lain2 baru, lalu dibuat jalan akses ke sana dan dibuat pelabuhan laut yang bagus, daging langsung dijual di Jawa dan seluruh Indonesia.

Indonesia itu tanahnya seluas semua negara ASEAN lainnya digabung jadi satu, masa duren saja kudu import dari Malaysia dan Thailand kan kebangetan itu.

Produk lokal harusnya lebih murah dan bermutu dong dari import, itu yg harus dipikirkan.

Jgn main proteksi saja yang membuat harga jadi mahal dan marak penyelewengan kanan kiri dan penyelundupan.

Pasar bebas itu harusnya bagus buat konsumen karena lebih banyak pilihan.


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Jum Feb 08, 2013 2:35 pm 
Offline
Super Model
Super Model

Bergabung: Sel Agt 30, 2011 11:15 am
Post: 753
Has Liked: 1 time
Been Liked: 27 times
SUBSIDI BBM rawan penyelewengan dan penyelundupan

KUOTA KUOTA import macam sapi dan buah dll...... juga rawan penyelundupan dan penyelewengan.

MONOPOLI sektor TELKOM juga menjadi sumber kenapa internet di Indonesia masih sangat lambat dan mahal harganya.

apakah konsumen masih mau beli barang karena "nasionalisme semu" ?

Mengapa kita harus memproteksi industri yang tidak bisa efisien ?

Mengapa kita tidak menuntut pemerintah agar memangkas Ekonomi biaya tinggi dan Pungli ?


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Min Feb 10, 2013 9:20 am 
Offline
Super Star
Super Star
Avatar user

Bergabung: Sab Okt 27, 2012 8:07 pm
Post: 192
Has Liked: 12 times
Been Liked: 7 times
Gw emang heran, kenapa produksi dalam negeri sepertinya susah banget bersaing dengan luar negeri? Padahal kalo dipikir-pikir, upah pekerja kita biar gimanapun masih lebih murah (selain China). Kemungkinannya ada beberapa sih, seperti:

1. karena upah pekerja di luar tinggi, mereka banyak pakai mesin, robot, dan segala macam otomasi yang basically ga butuh apa-apa selain "sedikit upah" (oli, bensin/solar/listrik)
Question: Kenapa petani/peternak/produsen kita ga beli teknologi seperti itu? Invest awalnya mungkin tinggi, tapi kan ke depannya enak? Kalau mereka ga mau adaptasi teknologi, kenapa konsumen yang harus jadi korban dengan membeli produk harga selangit?

2. karena produk impor itu sebenarnya disubsidi oleh pemerintah mereka
Question: Walaupun produk impor disubsidi, emang seberapa besar subsidi itu? Paling juga ter-cover untuk biaya transportasi. Bayangin aja itu produk harus didistribusi halfway around the world. Lah, produk lokal kan ga perlu transport sejauh itu? Jadi less cost dan harusnya tetap bisa bersaing dong.
Let's just say, memang subsidi pemerintah mereka besar. Then, kenapa pemerintah mereka mau (bisa) subsidi sedemikian besar? Kenapa pemerintah kita ga bisa seperti itu? Kalau pemerintah mereka subsidi besar, pemerintah kita subsidi tidak terlalu besar pun cukup dong harusnya, karena point di atas tadi: upah yang jauh di bawah luar negeri, dan karena untuk distribusi lokal, otomatis biaya distribusi juga turun drastis.

3. kualitas produk kita kalah dengan luar negeri
Question: Kenapa kita gak gunakan varietas yang mereka gunakan? Atau malah kita kembangkan varietas yang sudah kita punya sendiri menjadi lebih baik. Bahkan menurut wawancara di TV, untuk kasus daging sapi ini malah konsumen sebenarnya lebih prefer lokal, karena dagingnya baru disembelih (bukan daging beku) alias masih segar. Beratnya juga murni karena tidak ada pencairan es seperti yang terjadi pada daging beku.

4. mafia distribusi
Question: Kenapa pemerintah kita gak berani mengorek kasus ini? Juga, kenapa produsen lokal gak melaporkan (kalau pemerintah gak respon, ya blow up aja di media massa), kok malah maunya keran impor dihentikan, bukannya itu justru membuat produsen lokal keenakan karena mereka jadi monopoli/pengontrol harga?


Kalo kasus ini berkepanjangan, ga lama lagi bisa kasus kayak Fin*us nih di Indonesia...


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Rab Feb 13, 2013 10:03 pm 
Offline
Vice Prime Minister
<b>Vice Prime Minister</b>
Avatar user

Bergabung: Min Jul 17, 2011 2:05 pm
Post: 1998
Has Liked: 21 times
Been Liked: 36 times
@ okbd:
Wuah, sepertinya itu yg namanya million dollar questions
wkwkwk....

30 tahun yg lalu Indonesia pernah swasembada pangan dgn cara mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dan meningkatkan produktivitas pangan dlm negeri.
Skrg program pengendalian laju pertumbuhan penduduk sepertinya ngga ketat lagi dan produktivitas pangan dalam negeri sepertinya ngga dipedulikan lagi.
Padahal peningkatan konsumsi udah lbh cepat drpd peningkatan produksi.
Konyolnya, bukan mikir gimana agar bisa meningkatkan produktivitas dgn lahan pertanian/peternakan yg terbatas, malahan lahan tsb beralih fungsi jadi lahan perumahan, pabrik, mall. dsb.
Memang repot kalo kebijakan pemerintah ngga sinkron dgn kenyataan di lapangan.

So, IMHO banyak faktor yg hrs dibenahi utk mengatasi masalahnya.
Mulai dr urusan teknis spt penyediaan infrastruktur dan bibit unggul sampe membereskan masalah korupsi impor sapi.

_________________
Believe nothing, no matter where you read it, or who said it, no matter if I have said it, unless it agrees with your own reason and your own common sense.

Gambar


Atas
 Profil  
 
Tampilkan post-post sebelumnya:  Urutkan sesuai  
Postkan topik baru Balas ke topik  [ 15 post ] 

Waktu dalam UTC + 7 jam


Topik2 yg mirip:
 Topik2   Pengarang   Balasan   Dilihat   Post terakhir 
Tidak ada post yang belum dibaca untuk topik ini. Need Help and Coment. Cinta, Konspirasi atau Apes

giripeni

6

142

Sab Okt 29, 2011 8:58 pm

aldhy86 Lihat posting terbaru - Gay Indonesia Forum

Topik ini dikunci, anda tidak dapat megubah post atau membuat balasan. [uji teori] Member sini anak ke berapa dalam keluarga?

firstimer

16

274

Sab Sep 17, 2011 10:22 pm

Terry Sie Lihat posting terbaru - Gay Indonesia Forum

 


Siapa yang online

user yang berada di forum ini: Tidak ada user yang terdaftar dan 16 tamu


Kemelut Daging Sapi VS Teori Konspirasi Gay Indonesia Forum
Anda tidak dapat membuat topik baru di forum ini
Anda tidak dapat membalas topik di forum ini
Anda tidak dapat mengubah post anda di forum ini
Anda tidak dapat menghapus post anda di forum ini

Lompat ke:  


Gay Indonesia Forum is powered by phpBB® 2012 phpBB Group, Zend Guard V.5.5.0, and phpBB SEO